94DTCVv3Yden5O8wBOvNfDZFHlDJocscH4Dp8BlE
Fungsi seni Teater

Fungsi seni Teater

Fungsi seni Teater

Teater sebagai Sarana Upacara

Pada mula munculnya, teater muncul sebagai sarana upacara persembahan untuk dewa Dyonesos dan upacara pesta guna dewa Apollo. Teater yang bermanfaat guna kepentingan upacara tidak memerlukan penonton sebab penontonnya ialah bagian dari peserta upacara tersebut sendiri.

Di Indonesia seni teater yang dijadikan sebagai sarana upacara dikenal dengan istilah teater tradisional.

Teater sebagai Media Ekspresi

Teater adalahsalah satu format seni dengan konsentrasi utama pada laku dan dialog. Berbeda dengan seni musik yang mengedepankan aspek suara dan seni tari yang menekankan pada keselarasan gerak dan irama. Dalam praktiknya, Seniman teater bakal mengekspresikan seninya dalam format gerakan tubuh dan ucapan-ucapan.

Teater sebagai Media Hiburan

Dalam perannya sebagai sarana hiburan, sebelum pementasannya suatu teater tersebut harus dengan persiapkan dengan usaha yang maksimal. Sehingga harapannya pemirsa akan terhibur dengan peragaan yang digelar.

Teater sebagai Media Pendidikan

Teater ialah seni kolektif, dalam artian teater tidak digarap secara individual. Melainkan guna mewujudkannya dibutuhkan kerja kesebelasan yang harmonis. Jika sebuah teater dipentaskan diinginkan pesan-pesan yang hendak diutarakan pengarang dan pemain tersampaikan untuk penonton. Melalui pertunjukan seringkali manusia bakal lebih mudah memahami nilai baik buruk kehidupan dikomparasikan hanya menyimak lewat suatu cerita.

Penulisan Naskah

Penciptaan naskah guna teater anak-anak memungut tema yang akrab dengan kehidupan keseharian mereka laksana tentang dunia sekolah, kisah binatang, dongeng, dakwah keagamaan, petualangan khas anak dsb. Naskah kisah dibuat tidak terlampau panjang, sehingga saat dipentaskan melulu memakan waktu selama 15-20 menit. Hal ini dicocokkan dengan keterampilan anak dalam berolah akting, menghafal naskah dsb. Dialog-dialog pun diciptakan dengan logika berbahasa yang simpel dan kalimat yang pendek-pendek supaya mudah dihafal dan dihayati.

Pelatihan Seni Peran

Latihan seni peran merangkum konsentrasi, pelajaran membaca, penguasaan sarana ekspresi, perwatakan, dan kiat bermain.

a. Konsentrasi
Konsentrasi ialah suatu kesanggupan memfokuskan semua kekuatan rohani dan benak ke sebuah konsentrasi sasran yang jelas. Pengertian fokus bukanlah mengosongkan pikiran, tetapi memfokuskan pikiran (Rendra, 1985). Kemampuan berkonsentrasi pada anak-anak tidak tumbuh dengan sendirinya, namun harus ditajamkan terus-menerus. Dasar dari pelajaran konsentrasi ialah penguasaan diri. Pelatihan fokus yang mencakup fokus pendengaran, penglihatan dan penciuman mesti dilaksanakan secara rileks supaya anak-anak tidak merasakan ketegangan.

b. Latihan Membaca
Latihan menyimak bertujuan supaya anak-anak terampil membaca, menciduk makna bacaan dan dapat mengkomunikasikan arti tersebut untuk orang lain. Dalam urusan ini, kefasihan menyimak menjadi kriteria utama yang mesti diakuasai anak-anak. Anak-anak diminta untuk mengetahui isi bacaan kisah anak-anak, naskah drama anak, dongeng yang unik dsb. Setelah menyimak anak-anak diminta untuk mengisahkan kembali alur kisah dan karakter-karakter tokoh. Latihan menyimak pada hakekatnya sebagai pelajaran dasar untuk anak-anak untuk mengucapkan pikirannya secara jelas. Kepentingan praktis lainnya ialah untuk belajar menyampaikan dialog dalam permainan drama kelak.

c. Penguasaan Sarana Ekspresi
Media sarana ekspresi seorang pemain drama ialah tubuh, suara (vokal) dan sukma (Rendra, 1985). Pengolahan tubuh anak-anak ditekankan pada aspek koordinasi dalam mengerjakan akting. Koordinasi tersebut bersangkutan dengan membuat gerak cocok dengan keperluan pemanggungan. Anak-anak diperlihatkan tentang sikap tubuh yang baik di atas pentas.

Penguasaan sarana ekspresi adalahketrampilan bermain dalam memakai peralatan-peralatan ekspresinya (tubuh, vokal dan sukma) (Rendra, 1985). Salah satu kiat bermain yang dapat ditempuh ialah dengan memberi isi pada pengucapan-pengucapan dialog dengan penekanan arti yang terdapat di dalamnya. Seindah apa juga dialog dalam drama tidak bakal hidup bilamana diucapkan dengan datar. Pada pelajaran anak-anak diperlihatkan bahwa teknik pengucapan bertolak belakang akan mencetuskan makna berbeda.

Dalam bermain dibutuhkan pula kiat pengembangan supaya pertunjukan tidak monoton. Anak-anak diajar mengenali keadaan yang terdapat pada masing-masing adegan laksana suasana penih, gembira kekacauan dsb. Ketika anak-anak sudah mengenali keadaan dari masing-masing adegan maka mereka diajar menciptakan keadaan dengan sekian banyak  cara laksana dialog, gerakan, pemanfaatan ilustrasi musik, efek suara, penyinaran dsb.

Sarana ekspresi merangkum olah tubuh, olah suara, dan olah rasa.

1). Olah Tubuh
Latihan olah tubuh ialah kegiatan mengajar kesadaran tubuh dan teknik mendayagunakan tubuh. Olah tubuh dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu pelajaran pemanasan, pelajaran inti, dan pelajaran pendinginan.

a). Latihan pemanasan (warm-up), yakni serial pelajaran gerakan tubuh untuk menambah sirkulasi dengan teknik meregangkan otot atau melemaskan otot-otot. Teknis yang dipakai dapat dengan mengerjakan gerakan yang terdapat dalam gerakan senam kelenturan.

b). Latihan inti, yaitu pelajaran gerakan yang bakal dilatihkan atau pelajaran gerakan sesuai keperluan naskah yang bakal dipentaskan.

c). Latihan pendinginan ialah latihan dengan gerakan yang dapat memunculkan efek relaksasi, sehingga menolong menghantarkan pemain kedalam proses konsentrasi

Fungsi utama dari pelajaran olah tubuh ini ialah menjadikan organ tubuh elastis sehingga leluasa dan luwes andai digerakkan saat sedang bermain peran.

2). Olah Suara
Pengolahan suara atau vokal pada anak-anak ditekankan pada pembuatan nada dalam dialog. Penciptaan nada bisa memberi efek tertentu pada dialog cocok dengan kandungan arti di dalamnya (Harymawan, 1988). Anak-anak disuruh memainkan sekian banyak  macam warna suara. Latihan ini akan menyerahkan ketrampilan bercakap-cakap pada anak-anak.

Untuk menjadi pemain teater yang baik, maka dia mesti memiliki dasar suara atau vokal yang baik pula. “Baik” disini dapat ditafsirkan sebagai berikut.

a). Dapat tersiar seluruh pemirsa sampai posisi sangat belakang

b). Jelas secara artikulasi yakni pengucapan yang tepat

c). Baik secara intonasi yakni baik dalam lagu dialog

d). Tersampaikan tujuan atau pesan yang dikatakan melalui dialog

e). Tidak monoton
Dalam pelajaran olah suara perlu diacuhkan dan dipertimbangkan olah pernafasan sebagai dasar pelatihan. Teknik pernafasan yang dipakai dalam teater ialah pernafasan diafragma. Selanjutnya, setelah dapat melakukan pernafasan diafragma pelajaran olah suara ditekankan untuk mengajar artikulasi, intonasi, dan diksi sampai-sampai kalimat yang dibacakan jelas dan enak didengar.

3). Olah Rasa
Dalam pelajaran olah rasa atau sukma penekannya pada hal emosi. Anak-anak dituntun untuk dapat menumbuhkan emosi cocok dengan tuntutan peran. Apabila anak-anak telah dapat menumbuhkan emosi, maka anak-anak dipicu untuk mengembangkan emosi cocok dengan dosis peran. Pada pihak lain, anak-anak juga diajar untuk mengendalikan emosi, supaya kelak dapat mengontrol pertumbuhan emosi yang berlebih. Ketika anak-anak terlatih mengelola emosi maka kehidupannya bakal terkontrol dengan baik. Oleh sebab itu, pengelolaan emosi anak mendapat pelajaran yang besar.

Pemeran atau pemain teater memerlukan kepekaan rasa, supaya dapat menghayati karakter tokoh. Semua emosi figur yang dimainkan mesti dapat diwujudkan. Oleh sebab itu, latihan-latihan yang menyokong kepekaan rasa butuh dilakukan. Terlebih dalam konteks aksi, reaksi, dan responsi. Seorang pemeran tidak melulu mengekspresikan karakter figur yang perankan saja, tetapi pun harus menyerahkan respon terhadap ekspresi figur lainnya. Latihan atau pekerjaan olah rasa ini dapat dilaksanakan dengan teknik latihan fokus dan imajinasi.

Nilai karakter yang bisa diintegrasikan dalam etape pelatihan dasar pemeranan merupakan;

a). Disiplin dalam urusan ketepatan masa-masa latihan

b). Kerjasama dengan peserta yang beda sewaktu mengemban nomor-nomor

pelajaran (olah tubuh, suara, dan rasa)

c). Percaya diri dalam berekspresi atau melakukan pekerjaan dalam latihan

d). Kerja keras dalam melakukan pelajaran untuk menjangkau tujuan yang diharapkan

e). Komunikatif dalam makna mampu menjalin komunikasi baik dengan teman ataupun pelatih

Dalam kehidupan keseharian setiap anak tentu mempunyai watak yang berbeda, sampai-sampai pemahaman terhadap perwatakan akan mengirimkan mereka pada format pergaulan yang lebih baik. John Harrop dan Sabih R. Epstein (1990) menuliskan bahwa pelajaran perwatakan merangkum aspek fisiologis, psikologis dan sosiologis Dalam pelajaran fisiologis anak-anak diminta mengidentifikasi aspek fisiologis teman-temannya laksana jenis kelamin, usia, postur, warna kulit, dan seluruh aspek jasmani lainnya. Selanjutnya, anak-anak diminta mengidentifikasi aspek fisiologis pada kisah anak-anak atau dongeng yang pernah dibaca sekitar pelatihan.

Aspek psikologis berhubungan dengan sikap, motivasi, emosi, keinginan, desakan dan intelektual (John Harrop dan Sabih R. Epstein, 1990). Latihan aspek ini dibuka dengan suatu permainan yang dinamakan “perangakap raksasa”. Melalui permainan ini dihadapkan pada sekian banyak  jebakan. Pada masing-masing jebakan anak-anak mesti dapat membalas pertanyaan-pertanyaan sang raksasa seputar situasi psikologis anak-anak. Dengan pelajaran ini anak-anak lebih mengenal dirinya. Selanjutnya anak-anak diluncurkan pada perwatakan-perwatakan figur cerita, dongeng maupun drama.

Aspek sosilogis berhubungan dengan ciri-ciri kedudukan ekonomi, profesi, agama, kekerabatan dsb (John Harrop dan Sabih R. Epstein, 1990). Pada pelajaran ini anak-anak diminta menulis profesi orang tuanya, jenis pakaian yang biasa digunakan seseorang cocok dengan profesinya. Dari identifikasi pakaian dikembangkan pada perlengkapan yang digunakan dalam suatu profesi, sampai-sampai anak-anak berlatih mengetahui perwatakan secara lebih utuh.

Latihan perwatakan ialah latihan guna menjadi karakter figur yang bakal diperankan. Latihan ini dibuka dari tafsir terhadap figur yang bakal diperankan, observasi karakter, eksplorasi karakter, kolaborasi antarkarakter, dan pelajaran dengan tata artistik.

Tafsir
Sebelum memainkan suatu tokoh dalam cerita, seorang pemain mesti mengenali figur tersebut melewati informasi yang diperoleh dari dalam cerita. Tokoh itu harus diketahui wataknya atau sifatnya apakah sombong, jahat, atau baik budi. Tokoh itu harus pula diketahui perannya dalam kisah apakah ia antagonis, protagonis, tritagonis atau melulu sekedar figur figuran. Tokoh itu harus pula diketahui ciri-ciri fisiknya dan kedudukan sosialnya. Semua informasi ini sangat dibutuhkan sehingga calon pemeran dan mengartikan dan mempraktikkannya.

b). Observasi Karakter
Setelah menemukan informasi tentang peran yang bakal dimainkan seorang pemeran membutuhkan observasi atau pemantauan secara nyata dalam kehidupan untuk mengejar model acuan dari orang-orang yang dicermati tersebut. Model acuan yang cocok dengan karakter figur yang bakal dimainkan berikutnya dicermati secara detil sampai-sampai gaya dan tingkah lakunya bisa diadaptasikan ke dalam praktik pemeranan. Alangkah lebih baik andai ciri-ciri karakter orang yang dicermati ini disalin sehingga nantinya akan gampang untuk diaplikasikan.

c). Eksplorasi Karakter
Eksplorasi karakter ialah kegiatan mengembangkan gaya atau perilaku karakter yang bakal dimainkan berdasar daftar hasil pemantauan (observasi). Gaya dan perilaku ini dicocokkan dengan tuntutan cerita. Oleh karena tersebut dalam mengembangkan gaya dan perilaku karakter ini mesti jangan lepas dari tuntutan cerita.

d). Kolaborasi Antarkarakter
Kerjasama antarkarakter atau kolaborasi ini sangat dibutuhkan ketika pelajaran sudah mengarah pada adegan-adegan dalam kisah di mana karakter yang satu bakal bertemu dengan karakter yang lain. Kerjasama antarkarakter ini dimaksudkan supaya tidak terjadi kekakuan atau ekspresi karakter yang berlangsung sendiri-sendiri sampai-sampai tidak terjadi komuikasi yang alami dan menyebabkan makna atau maksud adegan menjadi kabur. Tidak jarang, pemain teater itu melulu bermain menurut keterangan dari tafsirnya sendiri tanpa menghiraukan yang lainnya. Oleh karena tersebut sangat dibutuhkan latihan aksi-reaki dan response antarkarakter dalam masing-masing adegan sampai-sampai kerjasama terbentuk dengan baik dan komunikasi peran menjadi alami.

e). Latihan dengan Tata Artistik
Latihan dengan artistik dilaksanakan ketika seluruh pemain telah memahami kisah yang bakal dimainkan dan karakter yang bakal diperankan. Bentuk pelajaran ini berupa adegan-adegan yang mana pemain menyesuaikan dirinya dengan aspek tata artistik laksana tata rias dan busana, hiasan panggung, tata cahaya, dan ilustrasi musik atau di antara di antaranya.

Nilai karakter yang bisa diintegrasikan dalam etape pemeranan karakter ini merupakan:

(1). Disiplin dalam urusan ketepatan masa-masa latihan
(2). Kerjasama dengan peserta yang beda sewaktu melaksanakan pelajaran observasi, eksplorasi, dan kolaborasi antarkarakter serta saat latihan dengan tata artistik
(3). Percaya diri dalam memainkan karakter yang bakal diperankan
(4). Kreatif dalam mengembangkan laku karakter
(5). Komunikatif dalam makna mampu memperlihatkan karakter peran cocok amanat Cerita.

PROSES PEMENTASAN

Sekalipun sudah memiliki keterampilan bermain teater berkat pelatihan yang diserahkan oleh seorang instruktur (pendamping), namun dalam suatu pementasan teater mereka tidak dapat bekerja sendiri. Mereka mesti didampingi seorang sutradara. Sutradara ialah orang yang membantu mengajar pemain, menunjukkan permainan, menuntun dan sumber ilham dalam pertunjukan. Sutradara mesti menguasai permainan dan artistik. Kecakapan seorang sutradara bakal menilai suatu pertunjukan.

Tahap proses pementasan merangkum persiapan pementasan. Dalam urusan ini seorang instruktur (pendamping) dan semua pemain mesti mengetahui serta menghafal baris-baris kalimat dialognya sampai-sampai cerita dapat berjalan secara menyeluruh. Dalam proses pementasan ini mulai disusun pula kepanitiaan pentas. Selanjutnya etape proses pementasan laksana di bawah ini.

Kepanitiaan Pentas

Kepanitiaan disusun untuk menata penyelenggaraan pementasan. Pementasan di sini tidak haru dilaksanakan di panggung tetapi dapat juga di selenggarakan di dalam ruang belajar dengan pemirsa teman-teman sekolah sendiri. Tugas panitia ialah mengatur jalannya pementasan mulai dari pemirsa datang sampai peragaan selesai di mana terdapat yang beraksi sebagai penerima tamu, pengatur penonton, pembawa acara, penolong rias dan busana, dekorasi, dan beda sebagainya.

Gladi Bersih

Gladi bersih ialah latihan borongan dan menyeluruh sebagai model dari pentas yang bahwasannya di mana kerja panitia pun sudah dimulai. Namun sebelum gladi bersih, pelajaran secara lengkap dari mula hingga akhir kisah sudah tidak jarang pula dilaksanakan sehingga pemain benar-benar siap.

Pentas

Pementasan dapat diadakan di mana saja dengan ketersediaan sarana dan prasaran yang ada, tidak mesti di gedung pertunjukan. Inti dari penyelenggaraan pentas ialah unjuk kerja semua pemain dan kepanitaan serta kerjasama salah satu mereka.

Evaluasi

Evaluasi dilaksanakan untuk menyerahkan penilaian atas pentas yang sudah dilakukan. Evaluasi lebih bersikap refleksi sampai-sampai semua yang tercebur menyadari kelemahan dan inginkan memperbaikinya untuk pekerjaan yang bakal datang.

Nilai karakter yang bisa diintegrasikan dalam proses pementasan:

  1. Disiplin dalam urusan ketepatan waktu pelajaran dan menjalankan formalitas latihan
  2. Kerjasama dengan peserta yang beda baik dari kesebelasan panitia maupun kesebelasan pemain
  3. Percaya diri dalam memainkan peran dan mengemban tugas kepanitiaan
  4. Kreatif dalam mengembangkan permainan dan melaksanakn tugas kepanitiaan
  5. pentas

Kerja keras dalam melakukan pelajaran untuk menjangkau hasil yang dinginkan Komunikatif dalam makna mampu menjalin komunikasi dengan seluruh teman kerja buatan pementasan untuk menjangkau hasil yang maksimal.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment